Re-edukasi Kesadaran dan Identitas: Membedah Pemikiran Hasan di Tiro dalam The Price of Freedom
Dalam babak awal sejarah deklarasi National Liberation Front of Acheh Sumatra (NLFAS) pada bulan Desember 1976, Tengku Hasan di Tiro mencatat perenungan mendalam mengenai hakikat dari pergerakan yang dipimpinnya. Catatan harian bertanggal 7 Desember 1976 yang ditulis dari markas gerilya di Bukit Tjokkan (Tjokkan Hill) mengungkapkan bahwa fondasi awal dari perjuangan tersebut bukan semata-mata konfrontasi fisik, melainkan sebuah gerakan edukasi dan penyadaran kolektif.
Kutipan Asli dan Sumber Data
Berikut adalah petikan kalimat asli sebagaimana tercantum dalam buku The Price of Freedom: Unfinished Diary karya Tengku Hasan di Tiro catatan harian 7 Desember 1976
"Essentially this is an educational and a missionary movement to re-educate my people about themselves, their history, their culture, their economy, their past and their proper future. And to make them aware in what process of dissolution and colonization they have been subjected to by the Javanese Indonesian colonialists."
Terjemahan: "Pada dasarnya ini adalah sebuah gerakan pendidikan dan misi untuk mendidik kembali rakyat saya tentang diri mereka sendiri, sejarah mereka, kebudayaan mereka, perekonomian mereka, masa lalu mereka, dan masa depan mereka yang sepatutnya. Serta untuk membuat mereka sadar akan proses pembubaran dan penjajahan yang telah dialami oleh penjajah kolonialis Indonesia Jawa."
Sumber: The Price of Freedom, catatan harian 7 Desember 1976, Bukit Tjokkan.
Pilar Pemikiran dalam Kutipan
- Re-edukasi Sejarah dan Identitas Kebudayaan: Pemulihan ingatan kolektif atas sejarah dan identitas.
- Kesadaran Potensi Ekonomi: Memahami nilai SDA dan kemandirian ekonomi.
- Penyadaran Masa Depan dan Otonomi Politik: Menentukan arah proper future secara mandiri.
Konteks Historis 6–7 Desember 1976
- 6 Desember 1976: Wafatnya Tengku Sjamaun (55 tahun) di Aceh Timur, bergabungnya Dr. Muchtar Hasbi, Dr. Husaini Hasan, dll.
- 7 Desember 1976: Bergabungnya Mr. A. Daud (50 tahun) dan Uzair Djailani (30 tahun) resign dari Pertamina.