Dari Semarang ke Banda Aceh: Kisah Rumoh Aceh 1915 Yang Jadi Museum Tertua di Aceh

Foto: Rumoh Aceh Asli di Museum Aceh - Koleksi aceh1986.blogspot.com

Bayangkan sebuah rumah yang lahir bukan di Aceh, tapi di Semarang. Dibangun untuk dipamerkan kepada Belanda, lalu dibawa pulang menyeberangi lautan pada 31 Juli 1915. Itulah Rumoh Aceh.

Rumoh Aceh yang juga berfungsi sebagai museum didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A Swart pada tanggal 31 Juli 1915.

Dari Paviliun Pameran Kolonial Semarang 1914

Bangunan Rumoh Aceh berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus - 15 November 1914. Setelah pameran selesai, atas prakarsa Stammeshaus, bangunan itu dibawa kembali ke Aceh dan diletakkan di sebelah timur Blang Padang, Banda Aceh pada tanggal 31 Juli 1915.

1969: Pindah ke Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah

Museum Rumah Aceh menjadi milik pemerintah Aceh. Pada tahun 1969 atas ide T. Hamzah Bendahara, museum Rumah Aceh dipindahkan dari Blang Padang ke Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah di tanah seluas 10.800 m2. Di sinilah ia berada hingga sekarang sebagai Museum Negeri Aceh.

Bentuk Asli: Rumah Panggung 9 Kaki

Tempat tinggal asli masyarakat Aceh, rumah tersebut berbentuk rumahnya panggung. Tinggi lantai bangunan ini 9 kaki dari permukaan tanah. Disandarkan pada tiang kayu penyangga dengan ruang kolong di bawahnya. Bangunan ini memiliki luas lebih dari 200 meter persegi dengan tinggi atap pada bagian perabung 8 meter.

Konstruksi pasak tanpa paku inilah yang membuatnya bisa dibongkar pasang dan dibawa dari Semarang ke Banda Aceh.

Lokasi Sekarang

Jl. Sultan Alaidin Mahmudsyah No.10, Banda Aceh. Museum tertua di Aceh yang wajib dikunjungi setelah Masjid Raya Baiturrahman 1612.

Post a Comment

Previous Post Next Post