Foto: Masjid Raya Baiturrahman, bukti janji Sultan Iskandar Muda tahun 1612 yang selamat dari api dan tsunami
Bayangkan seorang Sultan di tahun 1612, berdiri di tanah berlumpur Banda Aceh, tidak membangun istana untuk dirinya, tapi membangun rumah untuk Tuhannya. Ia berbisik, mungkin dalam doa: Selama rumah ini berdiri, negeriku tak akan pernah hilang.
Sultan itu adalah Sultan Iskandar Muda. Dan rumah itu adalah Masjid Raya Baiturrahman. 414 tahun kemudian, bisikan itu terbukti.
1612: Cinta Pertama Seorang Sultan
Tahun 1612 M / 1022 Hijriah. Aceh adalah kerajaan Islam paling ditakuti di Asia Tenggara. Sultan Iskandar Muda (1607-1636) tidak membangun istana megah, ia membangun Masjid Kesultanan Aceh Darussalam di jantung kota. Atapnya dari rumbia, dindingnya dari kayu terbaik hutan Aceh. Sederhana. Tapi dari masjid itulah semua keputusan besar kerajaan lahir. Buku resmi pengelola masjid mencatat jelas: inilah tahun lahirnya Baiturrahman. Ada yang menyebut 1292 oleh Sultan Alaidin Mahmudsyah, tapi jiwa masjid ini diakui lahir di 1612.
1873: Darah di Pohon Kohler
Carilah pohon besar di halaman depan masjid. Itulah Pohon Kohler. April 1873, Safar 1290 H, Jenderal Belanda J.H.R. Kohler memimpin ribuan serdadu menyerbu masjid yang menjadi benteng terakhir pejuang Aceh. Ia tewas tepat di bawah pohon itu. Belanda murka, mereka kembali dan membakar habis masjid kesultanan itu hingga jadi arang. 261 tahun cinta Sultan Iskandar Muda, hangus dalam satu malam.
1881: Dibangun Oleh Musuh Yang Takut
Ironi terindah. Belanda yang membakarnya harus membangunnya kembali. Bukan karena cinta, tapi takut pada doa rakyat. Gubernur Jenderal Van Lansberge memerintahkan arsitek Gerrit Bruins membangun dengan gaya Mughal India, kubah hitam legam. Mulai 1879, selesai 27 Desember 1881. Saat itu Sultan terakhir Muhammad Daud Syah masih hidup, melihat masjidnya dibangun oleh musuhnya sendiri.
26 Desember 2004: Laut Datang, Tapi Janji Itu Menahannya
Minggu pagi, Aceh Darurat Militer. Gempa 9,1 SR, tsunami 30 meter menyapu Banda Aceh. Kota hilang dalam 15 menit. Kecuali satu. Masjid Raya Baiturrahman tidak tenggelam. Ribuan orang selamat di dalamnya. Foto masjid yang berdiri sendiri di tengah puing menjadi foto paling terkenal di dunia. Saat itulah orang Aceh teringat janji 1612 itu: Selama masjid ini berdiri, Aceh tak akan pernah hilang. Setahun kemudian, 15 Agustus 2005, MoU Helsinki, damai 【entity-GAM¦canonical_name=GAM】-RI ditandatangani.
Hari Ini: 12 Payung Yang Menari
Di era Gubernur Zaini Abdullah - Muzakir Manaf, masjid dipakaikan 12 payung elektrik raksasa seperti di Nabawi. Sore hari jam 17.00, payung-payung itu terbuka perlahan, menaungi halaman marmer Italia yang dingin. Cahaya senja jatuh di wajah jamaah. Itulah janji yang terus hidup.
Datanglah, Jangan Hanya Memotret
Jl. Moh. Jam, Kota Baru, Banda Aceh. Datang jam 17.00 saat payung terbuka, lalu Maghrib berjamaah. Rasakan 414 tahun doa di dalamnya. Janji Sultan Iskandar Muda itu masih ada di sana.