Kehidupan sehari-hari di kamp gerilya Aceh diatur dengan pola yang ketat dan definitif. Tidak ada yang kebetulan. Setiap jam memiliki makna, setiap kegiatan memiliki disiplin. Inilah catatan perjalanan Hasan Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), selama berada di jantung hutan Aceh pada periode 1976-1979, sebuah potret tentang bagaimana sebuah pergerakan dipertahankan bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan iman dan keteraturan.
Jam 05.00 - Adzan Subuh di Hutan Alue Bili
Hari di kamp gerilya selalu dimulai sebelum matahari terbit. Tepat jam 05.00, adzan Subuh berkumandang memecah keheningan hutan Alue Bili.
Adzan itu bukan sekadar panggilan sholat. Ia adalah seruan yang telah bergema selama 1400 tahun dalam sejarah Islam, panggilan kemenangan, panggilan kehidupan yang hakiki. Di hutan belantara Aceh, adzan terasa lebih hidup, lebih menggugah, karena ia adalah pengingat bahwa kami masih ada, masih berdiri, masih beriman.
Muazzin kami dipilih dengan selektif. Ia harus memiliki suara yang merdu, jernih, dan mampu menjangkau jauh. Namun keindahan suara bukanlah satu-satunya syarat. Faktor keamanan menjadi pertimbangan utama. Jika posisi kamp sedang rawan dan patroli musuh diperkirakan dekat, adzan dikumandangkan dengan suara yang lebih tertahan, cukup untuk internal kamp. Jika kondisi aman, adzan dilepaskan lepas, membelah hutan, menjadi pernyataan eksistensi kami kepada alam.
Jam 05.15 - Sholat Subuh Berjamaah - Pemimpin Harus Layak Jadi Imam
Lima belas menit setelah adzan, seluruh penghuni kamp sudah berkumpul untuk sholat Subuh berjamaah. Di sinilah salah satu prinsip paling fundamental dari perjuangan Aceh ditegakkan: pemisahan antara agama dan politik kami hapus total.
Dalam tradisi Aceh, seorang pemimpin politik harus layak menjadi imam sholat. Rakyat Aceh tidak akan pernah mengikuti seorang pemimpin yang tidak fit untuk menjadi imam. Ini adalah bentuk kontrol rakyat yang paling jujur dan paling langsung. Kepemimpinan tidak diukur dari pidato, tetapi dari kemampuan memimpin doa di hadapan Allah.
Saya, penulis catatan ini, telah menjadi imam sholat sejak saya belajar berjalan. Bagi orang Aceh, menjadi imam adalah latihan kepemimpinan pertama. Tujuan sholat kami sangat jelas: kami bukan berdoa untuk kekayaan atau jabatan. Kami berdoa sebagai pejuang.
Doa iftitah kami panjatkan dengan penuh kesadaran: "Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, Maha Suci Allah dengan puji-pujian yang melimpah, Maha Suci Allah pagi dan petang. Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus dan berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam..."
Dan kami tutup dengan Al-Fatihah yang menjadi kompas perjuangan: "...Bimbing kami ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat."
Jam 05.30-07.00 - Sarapan, Mobilitas, Laporan Keamanan
Usai sholat, jam 05.30 sampai 07.00 adalah waktu paling sibuk. Sarapan disiapkan dengan menu yang sangat sederhana: nasi rebus dan kopi pahit. Tidak ada kemewahan. Namun di balik kesederhanaan itu ada kerja keras luar biasa dari tim dapur yang harus bangun jauh lebih awal, sekitar jam 03.00 hingga 04.00 dini hari, untuk menyiapkan segalanya dalam kondisi gelap dan dingin hutan.
Prinsip utama kamp gerilya adalah mobilitas total. Segala sesuatu harus selalu dalam keadaan siap untuk dipindahkan dalam hitungan menit. Peralatan makan, perlengkapan tidur, dokumen, semua dikemas rapi dan siap angkut. Kami hidup dengan filosofi bahwa kamp hari ini bisa saja sudah bukan kamp kami besok pagi.
Di empat penjuru kamp, pos-pos penjagaan sudah aktif sejak malam. Pada jam ini, setiap pos wajib memberikan laporan keamanan. Laporan itu detail: jejak kaki asing, suara mesin di kejauhan, pergerakan hewan yang tidak wajar, hingga kondisi cuaca. Tidak ada informasi yang dianggap remeh. Di hutan, kelalaian sekecil apa pun bisa berarti kematian.
Jam 09.00-10.00 - Kurir dan Tamu
Jam 09.00 hingga 10.00 adalah jam kurir. Para kurir adalah urat nadi perjuangan. Mereka berangkat membawa pesan, instruksi, dan informasi intelijen ke kantong-kantong perlawanan di berbagai wilayah. Tugas mereka adalah yang paling berbahaya karena harus menembus blokade musuh, menyamar, dan berjalan berhari-hari melalui hutan dan desa.
Setiap keberangkatan kurir disertai ritual yang mengharukan: cium tangan. Bukan sekadar tradisi, tetapi doa dan penghormatan. Kami mencium tangan mereka sebagai tanda terima kasih atas keberanian mereka mempertaruhkan nyawa demi Aceh Merdeka.
Pada jam yang sama, kamp juga sering menerima tamu-tamu penting. Mereka adalah tokoh masyarakat, ulama, atau perwakilan dari daerah-daerah pemilihan. Diskusi yang terjadi bukanlah diskusi basa-basi, melainkan strategi serius tentang bagaimana mempertahankan dukungan rakyat, mengatur logistik, dan menjaga semangat perlawanan agar tidak padam.
Jam 13.00-14.00 - Sholat Dhuhur dan Pengunjung Wilayah Tiro
Menjelang Dhuhur, etiket Aceh kembali ditegakkan dengan ketat. Siapa pun yang datang, bahkan jika ia adalah tamu paling terhormat dari wilayah Tiro sendiri, aturan tetap sama: yang paling penting, yang paling berilmu, yang paling layak, harus menjadi imam.
Ini bukan soal gengsi, ini soal penghormatan pada sholat itu sendiri. Di kamp, saya sering teringat kembali penderitaan masa kecil. Pada usia 14-15 tahun, saya sudah harus berdiri berpidato di masjid-masjid di depan orang-orang tua. Beban itu berat, tetapi itulah yang membentuk karakter pejuang Aceh.
Salah satu pos terdepan kami adalah pos Tjokkan. Untuk mencapainya, kami harus turun bukit selama 1 jam. Perjalanan pulang jauh lebih berat, naik selama 2 jam dengan medan licin dan terjal. Setiap perjalanan harus diperhitungkan keamanannya. Kami tidak pernah menggunakan jalur yang sama dua kali berturut-turut. Keamanan adalah ibadah.
Jam 17.00-19.00 - Sore, Maghrib, Silaturahmi
Sore hari di hutan memiliki keheningan yang berbeda. Jam 17.00 sampai 19.00 adalah waktu untuk berdoa bersama. Momen ini seringkali menjadi momen yang paling emosional.
Setelah berdoa, banyak pejuang muda yang tidak kuasa menahan air mata. Mereka menangis, lalu mencium tangan saya dan para sesepuh. Itu bukan tangisan lemah, itu adalah tangisan rindu pada kampung halaman, pada keluarga, pada sebuah Aceh yang merdeka yang belum mereka lihat. Setelah itu, mereka harus kembali naik selama 2 jam ke pos masing-masing dalam gelap.
Sholat Maghrib kami laksanakan lebih lama dari biasanya. Dzikir dipanjangkan, doa dipanjatkan dengan khusyuk. Setelah Maghrib, dimulailah sesi silaturahmi dan dongeng perjuangan. Di sinilah bakat-bakat terpendam para pejuang muncul.
Ada yang buta huruf saat masuk hutan, tetapi setelah beberapa bulan di kamp, ia sudah bisa membaca, menulis, bahkan menciptakan puisi-puisi Aceh yang indah tentang kebebasan. Hutan Alue Bili bukan hanya markas militer, ia adalah universitas kehidupan.
Jam 21.00 - Pindah ke Alue Bili Camp - 4 Dokter Bergabung
Memasuki jam 21.00, sebuah keputusan besar diambil: kami pindah ke Alue Bili Camp, tepat di tepi Sungai Tiro. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan taktis yang matang.
Di tepi Sungai Tiro, kami bisa berenang, membersihkan diri, dan menangkap ikan untuk menambah logistik. Sungai juga menjadi jalur pelarian alami dan membantu meringankan beban logistik yang selama ini sangat berat. Air sungai yang jernih menjadi saksi bisu perjalanan kami.
Momen paling bersejarah di Alue Bili Camp adalah bergabungnya empat orang dokter terbaik Aceh. Mereka adalah Dr. Muchtar Hasbi, Dr. Husaini Hasan, Dr. Zaini Abdullah, dan Dr. Zubir Mahmud.
Keputusan mereka bukanlah keputusan kecil. Mereka meninggalkan istri-istri muda mereka, anak-anak mereka yang masih kecil, meninggalkan praktik yang mapan, rumah sakit yang nyaman, untuk masuk ke dalam hutan rimba yang penuh bahaya. Sikap heroik inilah yang menjadi tulang punggung moral pasukan.
Bahkan wartawan senior Rosihan Anwar yang menulis di Harian Straits Times pada tanggal 29 Juli 1978 pun terheran-heran dan mencatat fenomena ini. Ia menulis tentang sebuah gerakan yang dipimpin oleh 4 dokter dan 1 insinyur. Komposisi yang sangat tidak biasa untuk sebuah gerakan gerilya.
Di Alue Bili Camp inilah foto terkenal itu diambil, foto yang kemudian tersebar secara internasional dan menjadi ikon perjuangan Aceh Merdeka. Di foto itu terlihat perubahan fisik kami yang drastis. Kami kurus, janggut memanjang, kulit menghitam terbakar matahari, tetapi mata kami menyala dengan keyakinan.
Ada satu benda kecil yang selalu saya bawa: sebuah cermin mini berukuran hanya 1,5 x 3 inci. Cermin itu adalah kontribusi dari Tiongkok, sebuah pelajaran kecil dari teori Mao Tse Tung tentang bagaimana seorang gerilyawan harus tetap menjaga kerapian dan disiplin pribadi bahkan di dalam hutan yang paling liar sekalipun. Dari cermin kecil itu saya melihat wajah saya yang berubah, tetapi tekad yang tidak pernah berubah.
Penutup - Fanatik atau Pejuang Kebebasan?
Friedrich Nietzsche pernah berkata, "Fanatisme adalah satu-satunya bentuk kemauan yang dapat dibawa oleh orang-orang lemah dan penakut."
Namun, benarkah kami fanatik? Pemerintah Belanda di masa lalu mencap pejuang Aceh sebagai fanatik. Majalah Far Eastern Economic Review juga menggunakan label yang sama untuk kami. Label itu mudah diberikan oleh mereka yang berada di kursi empuk kekuasaan kolonial.
Jika menentang kolonialisme, jika menolak untuk dijajah, jika menuntut hak untuk menentukan nasib sendiri di atas tanah nenek moyang sendiri disebut fanatik, maka biarlah kami menjadi fanatik.
Saya, Hasan Tiro, bukanlah orang yang tidak berpendidikan. Saya menyandang gelar Doctor of Laws yang saya peroleh pada tahun 1975 dari Universitas Plano, Amerika Serikat. Gelar itu berbunyi: "Dengan ini memberikan gelar Doctor of Laws kepada Teungku Hasan Muhammad di Tiro atas pencapaiannya yang luar biasa di bidang hukum internasional dan pengabdiannya pada prinsip keadilan."
Pertanyaannya kembali kepada dunia: Apakah seorang Doktor Hukum Internasional yang meninggalkan kenyamanan hidup di Amerika untuk berjuang bersama rakyatnya di hutan belantara Aceh adalah seorang fanatik? Atau ia hanyalah seorang pejuang kebebasan yang menolak untuk tunduk pada ketidakadilan?
Sejarah yang akan menjawabnya.
© Copyright - Kisah Perjalanan Hasan Tiro - Arsip Perjuangan Aceh Merdeka - Alue Bili Camp