Sebagai anak Aceh yang lahir tahun 1986 dan besar mendengar cerita tentang Gas Arun Lhokseumawe dari orang tua, saya sering bertanya-tanya kenapa tanah sekaya ini budayanya juga sekaya alamnya. Dari memancing di Krueng Sabee Aceh Jaya sampai nonton langsung Tari Saman di PKA Banda Aceh, saya melihat sendiri bagaimana warisan leluhur ini dijaga. Artikel ini saya tulis untuk mencatat apa yang saya lihat dan dengar, biar anak cucu kita nanti tahu Aceh bukan cuma tentang konflik, tapi tentang kekayaan dan budaya.
Kalau ditanya apa yang paling saya ingat dari kecil, pasti cerita ayah tentang Lhokseumawe. Katanya dulu Gas Arun itu nadi hidup orang Aceh. Saya baru paham setelah besar, ternyata Arun yang dikelola bareng ExxonMobil sejak 1986 itu pernah jadi salah satu kilang LNG terbesar di dunia. Bukan main-main, devisa negara ditopang dari tanah kita.
Tapi Aceh bukan cuma gas. Waktu saya ikut kawan ke Krueng Sabee, Aceh Jaya, baru tahu di sana ada cerita emas sejak zaman Belanda. Di Meulaboh dan Nagan Raya, orang bicara batubara kalori tinggi yang hamparannya luas. Dan yang paling saya suka, batu giok Aceh. Saya pernah lihat langsung giok solar Nagan Raya dan giok lumut Gayo di PKA, hijaunya beda, ada yang putih susu, ada yang hitam pekat. Kolektor luar negeri saja berburu ke sini.
Catatan Saya Tentang Tarian Aceh
Buat saya, tarian Aceh itu bukan cuma gerakan. Ini doa. Hampir semua diiringi zikir dan syair dakwah, itu yang bikin merinding.
1. Ranup Lampuan - Yang Selalu Bikin Saya Terharu
Setiap kali saya ke PKA, Ranup Lampuan yang buka acara. Penari perempuan bawa ranup sirih di dalam puan, gerakannya lembut sekali. Kata mak saya, itu simbol penghormatan dan doa biar tamu selamat. Makanya saya selalu bilang ke anak saya, kalau disambut dengan Ranup Lampuan, itu penghormatan tertinggi orang Aceh.
2. Seudati
Seudati ini beda. Dibawakan 8 laki-laki, tanpa musik, hanya tepuk dada, hentak kaki, dan syech yang bersyair tentang agama dan kepahlawanan. Pengaruh Arab-nya kuat. Saya pernah nonton di lapangan, energinya luar biasa, kompaknya itu yang bikin bulu kuduk berdiri.
3. Rapai - Jantungnya Ada di Kekompakan
Rapai pakai rebana besar. Kekuatannya di irama dan teriakan semangat. Dari yang saya catat di PKA, jenisnya banyak: Rapai Daboih yang debus kekebalan, Rapai Geurimpheng yang cepat dan melingkar, Rapai Pulot yang unik tanpa musik cuma gerakan tangan, Rapai Anak untuk anak-anak, Rapai Pasee dari Aceh Utara yang lebih kalem, dan Rapai Kisah yang cerita kisah Islami. Semua mengajarkan satu hal: kalau tidak kompak, tidak jadi.
4. Saman Gayo - Warisan UNESCO yang Pernah Saya Saksikan Ribuan Penari
Saman dari Gayo, Aceh Tengah, sudah diakui UNESCO sejak 2011 sebagai Warisan Budaya Takbenda. Orang luar bilang Tarian Seribu Tangan, memang betul, kecepatan tepuk tangan dan dada sambil duduk berbanjar itu susah ditiru. Saya pernah lihat Saman kolosal di Banda Aceh, ribuan penari, pecah rekor MURI. Di situ saya paham, Saman itu soal kebersamaan, tidak ada yang menonjol sendiri.
5. Meuseukat
Kalau Saman dan Seudati laki-laki, Meuseukat ini kebanggaan perempuan Aceh. Berpasangan, lembut tapi kompak, syairnya pujian ke Nabi. Saya lihat sendiri bagaimana anak-anak perempuan latihan Meuseukat di meunasah, diajarkan sopan, kompak, dan beriman. Lembut tapi tangguh, itu perempuan Aceh.
Hikayat dan Kitab - Aceh Itu Pernah Jadi Pusat Ilmu
Yang sering dilupakan orang, Aceh dulu pusat intelektual Islam Nusantara sejak abad 16. Tokoh yang selalu saya ingat dari cerita guru ngaji saya adalah Syekh Abdurrauf As-Singkily (1615-1693), orang Singkil yang jadi Mufti Kesultanan Aceh di zaman Sultanah Safiatuddin. Karyanya Tarjuman al-Mustafid itu tafsir Al-Qur'an pertama lengkap dalam bahasa Melayu Jawi. Ada juga Mirat al-Thullab tentang fiqih pemerintahan, Mawaiz al-Badi'ah, dan kitab tasawuf lainnya. Hikayat lisan seperti Hikayat Prang Sabi dan Hikayat Malem Diwa juga masih dituturkan, jadi sekolah karakter buat kami waktu kecil.
PKA - Tempat Semua Cerita Itu Bertemu
Buat saya pribadi, puncak dari semua kekayaan itu ada di Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Digelar 5 tahun sekali sejak 1958, ini pekan raya budaya terbesar di Aceh, lokasinya di Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh. 23 kabupaten/kota buka anjungan masing-masing. Saya keliling dari anjungan Aceh Jaya sampai Gayo Lues, ada rencong, anyaman, songket, kuah beulangong, sie reuboh, parade busana, tarian kolosal. PKA itu bukan sekadar tontonan, buat saya ini laboratorium hidup. Di sini saya lihat sendiri bagaimana hasil bumi seperti gas, emas, dan giok itu kalau dikelola benar bisa jadi kesejahteraan, dan bagaimana tarian dan hikayat menjaga jiwa kami tetap Aceh.
Penutup: Versi Saya
Dari kilang Gas Arun di Lhokseumawe yang diceritakan orang tua saya sampai gemerincing Rapai di panggung PKA yang saya tonton sendiri, saya belajar satu hal: kekayaan sejati Aceh itu bukan cuma di perut bumi, tapi bagaimana hasil bumi itu dipakai untuk memuliakan budaya, dan budaya dijaga untuk memuliakan manusia. Seperti kata orang tua kami: Hudep Mulia Mate Syahid. Hidup mulia, mati syahid. Itu cara kami bertahan, kaya, dan tetap bermartabat. Semoga catatan kecil saya ini bisa jadi pengingat buat anak cucu nanti.