
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya. Panji kebesaran yang berkibar di setiap armada dan bentengnya dikenal dengan nama Bendera Alam Peudeung - bendera merah dengan bulan bintang dan pedang yang menjadi simbol kedaulatan maritim Aceh.
WILAYAH KEKUASAAN DI MASA SULTAN ISKANDAR MUDA
Di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Kerajaan Aceh Darussalam berhasil menguasai wilayah yang sangat luas:
- Timur Sumatera: Siak, Indragiri, Lingga
- Barat Sumatera: Pariaman, Tiku, Salida, Indrapuri, Bengkulu
- Selatan Sumatera: Palembang dan Jambi
- Semenanjung Malaka: Johor, Pahang, Kedah, Patani, dan Perak
STRATEGI PERTAHANAN: PANGLIMA DI SETIAP DAERAH
Untuk mempertahankan daerah kekuasaannya yang luas, Sultan Iskandar Muda mengangkat seorang Panglima di setiap daerah kekuasaannya. Selain wilayah daratan, pada masa Sultan Iskandar Muda juga, Kerajaan Aceh berhasil merebut dan menguasai sejumlah pelabuhan-pelabuhan penting di Pesisir Barat Sumatera, Pesisir Timur Sumatera, dan Pesisir Semenanjung Melayu.
Dengan menguasai pelabuhan-pelabuhan strategis tersebut, perdagangan di Selat Malaka dan seluruh kawasan Sumatera serta Semenanjung Melayu dapat dikuasai oleh Kerajaan Aceh Darussalam. Hal inilah yang membuat perekonomian kerajaan semakin meningkat pesat.
PUNCAK KEJAYAAN DAN PERLAWANAN TERHADAP PORTUGIS
Pada masa Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaannya sebagai kekuatan maritim terbesar di Asia Tenggara.
Kerajaan Aceh Darussalam juga mampu mengusir pasukan Portugis yang berada di Pulau Bintan dan Malaka. Armada Aceh yang tangguh di bawah panji Alam Peudeung juga berhasil menyerang kapal-kapal perang Portugis yang ingin menguasai perdagangan di Selat Malaka.