
HASAN TIRO — DIARY GERILYA
Disusun ulang untuk pembaca masa kini • Alue Bili • Jam 17.00 - Sore Bersama Pengunjung - Efek Berdoa Bersama
SORE BERSAMA PENGUNJUNG - EFEK BERDOA BERSAMA
Jam 5.00 pm sore hari atau menjelang magrib. Waktu yang selalu punya makna berbeda di hutan. Cahaya mulai condong, suara jangkrik naik, dan para pengunjung berdatangan dari kampung-kampung sekitar — berjalan kaki berjam-jam hanya untuk bertemu sebentar.
Orang-orang saya suka memiliki kesempatan untuk berdiri di belakang saya untuk berdoa bersama dengan saya. Saya tidak pernah menyuruh. Mereka sendiri yang meminta. Di barisan yang tidak rapi, dengan sajadah dari kain sarung yang sudah tipis, kami berdiri.
Efeknya sangat bagus. Bukan bagus dalam arti khusyuknya saja, tapi bagus dalam arti politiknya. Itu membuat orang-orang saya lebih emosional, lebih bertekad untuk setia satu sama lain dan untuk tujuan suci kita.
Tidak ada aksi politik tanpa keterlibatan emosional para peserta.
— Catatan pinggir: kalimat ini digarisbawahi tiga kali dalam buku harian asli.
BERDOA BERSAMA MELEGAKAN AGAMA, POLITIK DAN INDRA EMOSIONAL
Saya belajar sesuatu sore itu. Berdoa bersama memiliki efek untuk melegakan agama, politik dan indra emosional untuk tindakan yang ditentukan. Orang Aceh bukan orang yang mudah diperintah dengan instruksi. Mereka harus disentuh dulu hatinya, baru kakinya mau bergerak.
Ketika doa selesai, tidak ada yang langsung pulang. Mereka duduk. Diam. Ada yang masih menunduk. Di hutan, doa bukan ritual lima menit. Ia adalah cara kita menyatukan kembali alasan kenapa kita di sini — bukan karena benci, tapi karena cinta pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
ORANG TERSENTUH MELIHAT HASAN TIRO TINGGAL DI HUTAN - TINGGALKAN ISTRI DAN ANAK
Orang-orang saya tersentuh ketika mereka telah melihat saya tinggal di forest. Mereka tahu saya harus meninggalkan istri dan anak saya untuk melakukan ini. Bagi mereka, itu bukan hal kecil.
Bahkan dalam Aceh saya tinggal di tempat yang bagi mereka tampak mewah. Rumah saya di luar negeri, kehidupan saya sebelumnya — mereka dengar cerita itu dari mulut ke mulut. Tapi di sinilah aku hidup di hutan demi mereka, demi kelangsungan hidup negara kita. Tidur beralaskan plastik, makan seadanya, digigit nyamuk semalaman.
Kontras itu yang menusuk mereka. Seorang yang bisa hidup nyaman di luar, memilih hidup paling susah di dalam. Itu bukan propaganda. Itu mereka lihat dengan mata kepala sendiri. Tidak ada pidato yang bisa menggantikan kesaksian mata seperti itu.
SEMUA MENANGIS CIUM TANGAN - JANJI BERIKAN HIDUP DAN SEMUA YANG DIMILIKI
Semua menangis ketika mereka melihatku, dan menangis ketika mereka mencium tanganku untuk mengucapkan selamat tinggal. Bukan tangisan keras. Tangisan yang ditahan, bahu yang bergetar. Laki-laki tua yang tangannya kasar karena cangkul, perempuan muda yang menggendong anak.
Semua berjanji untuk memberikan hidup mereka dan semua yang mereka miliki, laki-laki dan wanita sama. Saya tidak meminta janji itu. Saya justru takut mendengarnya. Karena janji yang lahir dari emosi yang begitu dalam, ia mengikat lebih kuat dari kontrak apapun. Inilah modal politik yang tidak bisa dibeli: kesetiaan yang lahir dari air mata.
CATATAN LAPANGAN
Emosi bukan kelemahan gerakan. Emosi adalah bahan bakarnya. Tanpa itu, politik hanya jadi administrasi.
Di Alue Bili, Hasan Tiro tidak membangun markas militer. Ia membangun ruang emosional: tempat berdoa, bercerita, menangis bersama. Dari situlah disiplin lahir — bukan dari baris-berbaris, tapi dari rasa memiliki yang sama.
SILATURAHMI DONGENG - MENEMUKAN BAKAT TERSEMBUNYI
Jam 7.00 pm, setelah maghrib, kami lanjutkan dengan silaturahmi. Tidak ada agenda resmi. Hanya duduk melingkar, minum teh yang hampir hambar, dan dongeng.
Saya meminta mereka bercerita. Tentang kampung, tentang masa kecil, tentang puisi yang mereka dengar dari nenek mereka. Di sinilah saya menemukan bakat tersembunyi. Orang yang siangnya tampak pendiam, malamnya ternyata bisa bercerita dengan urutan yang luar biasa rapi. Ada yang hafal hikayat panjang tanpa pernah sekolah.
Saya sadar: hutan ini bukan hanya tempat persembunyian. Ia adalah panggung. Tempat orang yang selama ini tidak dianggap, tiba-tiba didengar. Perubahan kepribadian total terjadi di depan mata — dari pemalu jadi percaya diri, dari yang merasa kecil jadi merasa penting.
TRANSFORMASI: BUTA HURUF 3 BULAN LALU, SEKARANG BISA TULIS PUISI ACEH DAN JELASKAN KRISIS IDENTITAS NASIONAL
Yang paling mengejutkan adalah seorang pemuda — tiga bulan lalu dia buta huruf. Tidak bisa baca, tidak bisa tulis. Malu kalau disuruh tanda tangan.
Malam itu, dia berdiri dan membaca puisi Aceh yang dia tulis sendiri. Tulisan tangannya masih gemetar, ejaannya masih berantakan, tapi isinya membuat semua orang diam. Puisi tentang tanah yang dirampas, tentang bahasa yang dilarang, tentang anak yang tidak kenal nama kakeknya sendiri.
Setelah puisi, dia menjelaskan krisis identitas nasional dengan istilah sederhana yang lebih dipahami dari penjelasan saya sendiri. Dia bilang: "Kita ini seperti orang yang disuruh pakai baju orang lain, lalu dibilang baju kita jelek. Lama-lama kita lupa bentuk badan kita sendiri." Semua mengangguk. Saya yang selama ini pakai istilah akademik, kalah jelas oleh satu kalimatnya.
Itulah bukti: ketika emosi terlibat, kecerdasan menyusul. Orang belajar bukan karena dipaksa, tapi karena merasa apa yang dipelajari itu miliknya. Kebutuhan untuk menjelaskan penderitaannya sendiri membuat dia belajar membaca dalam tiga bulan — sesuatu yang program pemerintah gagal lakukan bertahun-tahun.
HIKMAH HARI INI - POLITIK BUTUH HATI, BUKAN HANYA OTAK
Hari ini saya tutup buku harian dengan satu kesimpulan: politik yang hanya mengandalkan otak akan kalah oleh politik yang menggerakkan hati.
Di Alue Bili, saya tidak punya radio, tidak punya senjata banyak, tidak punya uang. Yang saya punya hanya dua waktu: jam 5 sore untuk berdoa bersama, dan jam 7 malam untuk mendengarkan dongeng. Dua waktu yang kelihatannya tidak politis, tapi justru di situlah politik yang sebenarnya terjadi.
Karena pada akhirnya, orang tidak akan mati untuk konsep. Orang akan mati untuk orang lain yang ia cintai, untuk doa yang pernah ia panjatkan bersama, untuk tangan yang pernah ia cium sambil menangis.
Tidak ada aksi politik tanpa keterlibatan emosional.
Dan tidak ada keterlibatan emosional tanpa keberanian untuk hidup bersama rakyat, di tempat yang paling susah, meninggalkan kenyamanan pribadi. Itulah filosofi sore ini dari Alue Bili.
Tulisan ini disusun dari catatan asli Hasan Tiro di hutan Alue Bili. Ejaan dan beberapa istilah disesuaikan untuk keterbacaan, tanpa mengubah makna aslinya.